A. LATAR
BELAKANG
Bagi
para sastrawan dan para peminat sastra, nama Chairil Anwar tentu tidak perlu di
perkenalkan. Para mahasiswa dan pelajar tentu tidak merasa asing dengan nama
besar itu. Nama itu begitu populernya sehingga sebagian siswa sekolah Dasar pun
mengenalnya. Yang barangkali perlu di beri penjelasan disini adalah kata
semangat yang digunakan sebagai semangat. Kata semangat disini boleh diartikan
“jiwa, dalam arti a) seluruh kehidupan batin manusia.” Yaitu jiwa atau kehidupan
batin Chairil Anwar.
Jika
bahasa puisi memang berisi kemungkinan penggunaan lambang-lambang yang
konotatif, maka pernyataan itu dapat pula diartikan bahwa Chairil Anwar ingin
hi-dup terus. Sudah tentu hal ini tidaklah berarti bahwa pribadi Chairil Anwar
ingin hidup terus. Sudah tentu hal ini tidaklah berarti bahwa pribadi Chairil
Anwar yang diinginkan hidup terus, namun tentulah hasil ciptanyanya. Artinya,
perubahan bentuk dan isi puisi yang di peloporinya diharapkan tetap menjiwai
karya puisi Indonesia dalam waktu yang lama, bahkan kalau mungkin
selama-lamanya. Memperbincangkan kesusastraan Indonesia, mustahil tanpa
menyebut sosoknya. Namanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi terbentuknya
identitas kesusastraan Indonesia, khususnya identitas sastra puisi Indonesia.
Sampai sekarang namanya menjadi mitos dan paling banyak diperbincangkan dalam
khazanah sastra Indonesia. Ialah yang dianggap meletakkan dasar perpuisian
modern Indonesia, yang mengembangkan estetika Indonesia modern dengan bentuk yang
begitu ekspresif, liar, berani, dan tak beraturan. Membicarakan puisi-puisi
Chairil Anwar, orang akan mempertautkan dengan vitalitas, ego, dan spirit individualis
dalam diri Chairil yang memang tersirat dalam banyak sajaknya (bahkan cara
hidupnya).
Hal
itu memang telah menjadi pilihan konsep estetika Chairil Anwar sendiri, seperti
yang diteriakkannya dalam pidatonya:…Vitalitas adalah sesuatu yang tak bisa
dielakkan dalam mencapai suatu keindahan. Dalam seni; vitalitas itu sendiri Chaotischvoorstadium,
keindahan kosmich eindstadium…(Pidato Chairil 7 Juli 1943). Karena kredonya itu
tak heran puisi-puisinya meneriakkan reaksioner, heroik, sangat individualis,
bahkan revolusioner. Hal ini tergambar jelas dalam puisi-puisi ”Persetujuan
dengan Bung Karno”, ”1943”, ”Semangat”, ”Siap Sedia”, dan masih banyak lagi.
Bahkan, ia tak segan-segan mengumumkan dirinya sendiri dengan lantang sebagai
”binatang jalang” dalam sajaknya “Aku” .
Sastra
menyodorkan ke hadapan kita ekspresi estetis tentang manusia dan kebudayaannya.
Di dalamnya tercakup kompleksitas ideologi, dunia nilai, norma hidup, etika,
pandangan dunia, tradisi, dan variasi-variasi tingkah laku manusia. Dengan kata
lain, sastra berbicara tentang tingkah laku manusia di dalam kebudayaannya. Di
dalam sastra, seperti halnya di dalam kajian tentang kebudayaan, manusia
disorot sebagai makhluk sosial, makhluk politik, makhlukekonomi, dan makhluk
kebudayaan. Tak mengherankan sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman,
yang secara antropologis merepresentasikan usaha manusia menjawab tantangan
hidup dalam suatu masa, dalam suatu konteks sejarah tertentu.
Manusia individual,
atau sang tokoh dalam sastra tersebut, hanya cuilan kecil dan bagian dari sastra
yang besar dan luas: bagian dari sastra yang mewakili potret zaman dan cerminan
masyarakat tadi. Tapi, sekecil apa pun peran sosialnya, manusia adalah aktor.
Dia aktor penentu dalam hidupnya sendiri, dan dalam dunianya.
Gaya
merupakan gejala relasional yang berhubungan dengan (a) rentetan kata,
ka-limat, dan berbagai kemungkinan manifestasi kode kebahasaan sebagai system
tanda, (b) dunia makna yang terepresentasikan, (c) motif serta inovasi penulis,
(d) konteks sosial budaya yang melingkupi pribadi pemakainya, dan (e) efek
penggunaan bahasa sebagai-mana impresi penanggapnya. Identifikasi ciri stilistik dalam karya
sastra hanya merupakan bagian dari fokus kajian teks sastra sebagai karya seni.
Meskipun pemahaman ciri stilistik teks sastra dapat digunakan sebagai pembuka
sekaligus bahan evidensi dalam mendeskripsikan unsur-unsur pembentuk karya
sastra secara keseluruhan. Dalam kajian puisi misalnya, pemaha-man ciri stilistik
dapat melandasi pemahaman dunia citraan, pokok-pokok pikiran penya-ir, sikap,
dan ideologi yang dikemukakan penyair dalam berbagai mantranya. Sementara dalam
kajian prosa fiksi, pemahaman ciri stilistik dapat dimanfaatkan sebagai unsur
da-sar penandaan ciri pelaku, hubungan pelaku, maupun gagasan yang ingin
dikemukakan penutur melalui dialog, monolog, lakuan, dan komentar yang
diberikannya.
Puisi,
menurut kamus Wikipedia Indonesia, berasal dari bahasa Yunani kuno poieo/poio
yang berarti I create atau saya menciptakan. Adalah seni tertulis di mana
bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti
semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja
pengulangan, dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan
ini masih diperdebatkan karena beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan
mendefinisikan puisi tidak sebagia jenis literatur tetapi sebagai perwujudan imajinasi
manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.
Sedangkan
penyair adalah seseorang yang menulis/mengarang karya puisi. Karya ini biasanya
dipengaruhi oleh tradisi budaya dan intelektual dan ditulis dalam suatu bahasa
tertentu. Beberapa kalangan menganggap bahwa puisi yang terbaik memiliki
ciri-ciri yang luas, tidak lekang oleh waktu dan memiliki gambaran umum bagi
seluruh umat manusia. Kalangan lainnya lebih mementingkan kualitas dari fakta
dan keindahan yang terkandung dalam puisi tersebut. Aminuddin (1995) mengatakan
bahwa stilistika adalah suatu bidang kajian yang mempelajari dan memberikan
deskripsi sistematis tentang gaya bahasa. Sementara kajian dalam buku tersebut hanya
diacukan pada karya sastra.
Gaya
adalah wujud penggunaan bahasa seorang penulis untuk mengemukakan suatu
gambaran, gagasan, pendapatnya serta akan membuahkan efek tertentu bagi
penanggapnya sebagaimana cara yang digunakannya.
B.
PUISI CHAIRIL
ANWAR
1.
PRAJURIT JAGA
MALAM
Waktu jalan. Aku tidak
tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948)
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948)
2. KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
3. DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
4. AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
5. CINTAKU
JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang terang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata :
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang terang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata :
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
C.
ANALISIS
PUISI DENGAN GAYA (STYLE)—ENKIVIST
1. Pemikiran yang
diucapkan/ cara penyampaian.
Puisi
chairil Anwar banyak yang menyeruakkan kata-kata “semangat” juga dapat
diartikan sebagai perjuangan. Penyair muda yang penuh vitalitas, Chairil Anwar
dia seo-rang pejuang, meskipun tidak perlu disebut pahlawan. Chairil Anwar adalah
prajurit yang bersenjatakan hasil sastranya. Coba lihat cuplikan puisi berikut
ini:
Sekali
berarti
Sudah
itu mati
Demikianlah
kata Chairil Anwar dalam sajaknya yang berjudul di Ponegoro yang telah
ditulisnya dalam tahun 1943 (kerikil Tajam, hal.9). Waktu itu adalah saat
dimulai-nya perjuangan fisik bangsa Indonesia untuk mencoba menghalau penjajah
dari bumi In-donesia. Chairil telah menyadarkan dan memberi semnagat kepada
kita untuk menyadari eksistensi kita di dunia ini, untuk memberi arti pada
hidup kita sebelum kita mungkin ma-ti.
Chairil Anwar telah memberi sugesti dan semangat perjuangan bagi bangsanya melalui sajak-sajaknya. Perhatikan:
Chairil Anwar telah memberi sugesti dan semangat perjuangan bagi bangsanya melalui sajak-sajaknya. Perhatikan:
Maju
Bagimu
negri
Menyediakan
api
Punah
di atas menghamba
Binasa
di atas ditinta
Sungguhpun
dalam ajal baru tercapai
Jika
hidup harus merasai.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
Serbu.
Serang.
Terjang.
Siapa
pemuda Indonesia yang tak tergerak hatinya untuk meneruskan perjuangan
Diponegoro, mengenyahkan penjajah dari Indonesia. Maka dari itu, biarpun “Lawan
ba-nyaknya seratus kali” dan meskipun hanya bersenjatakan “Pedang di kanan,
keris di kiri”, tetapi dengan “Berselempang semangat yang tidak bisa mati”
mereka tetap “maju”, mes-kipun “Ini barisan tak bergendang berpalu”, tetapi
“kepercayaan tanda menyerbu” untuk mengusir penjajah, yang meskipun mungkin
mereka harus mati tetapi telah berhasil me mberi arti pada hidup ini.
Demikian
pula dalam sajaknya AKU (Deru Campur Debu hal.7) dia telah mem-berikan dorongan
untuk membuat pembebasan dengan segera, dalam bidang perpuisian dan tidak
mustahil pula bagi para pejuang bangsa dapat ditafsirkan pembebasan diri dari
penjajah dengan mencapai kemerdekaan Indonesia.
Sementara
dalam puisi Chairil Anwar yang berjudul Krawang Bekasi dan Prajurit Jaga Malam,
yaitu ketika perjuangan merebut kemerdekaan benar-benar telah berkobar dengan
semangat pantang mundur, Chairil berteriak atas nama beribu-ribu pejuang yang
gugur terbaring diantara Krawang-Bekasi (Yang Terhempas dan Yang Putus, Hal.45)
bahwa perjuangan belum selesai, dan kepada mereka yang masih hidup diharapkan
agar mereka mau mengenang yang telah mati dengan memberi arti pada kematian
mereka de-ngan meneruskan perjuangannya.
Kami
mencoba apa yang kami bisa.
Tapi
kerja kami belum selesai, belum apa-apa.
Meskipun
mereka tidak bisa “teriak Merdeka dan angkat senjata lagi” dan mes-kipun mereka
“mati muda”, tetapi mereka rela. Mereka hanya mengharapkan kepada ya-ng masih
hidup.
Kenang,
kenanglah kami
Teruskan,
teruskan jiwa kami
Menjaga
Bung Karno
Menjaga
Bung Hatta
Menjaga
Bung Syahrir
Sekarang
kami mayat
Berilah
kami arti
Berjagalah
terus di garis batas pernyataan dan impian.
Memang
pada waktu itu kemerdekaan Indonesia masih berupa cita-cita. Tetapi lewat sajak
PRAJURIT JAGA MALAM (Yang Terhempas dan Yang Putus, hal.50) beta-pa semangat pemuda-pemuda
pejuang kita waktu itu dapat kita ketahui. Pemuda-pemuda yang lincah yang
tua-tua keras, bermata tajam, Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian.
Dengan
bintang-bintang kepastian inilah akhirnya bangsa Indonesia berhasil
men-dapatkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sajak-sajak Chairil
Anwar memang mengundang decak kagum pada setiap orang. Ia memiliki tema-tema
luar biasa yang mampu membangkitkan semangat kebangsaan dan perjuangan pada
saat itu. Hal itu dapat kita nikmati dalam sajak-sajaknya seperti yang berjudul
"Diponegoro", "Krawang Bekasi" dan "Persetujuan dengan
Bung Karno"nya Dalam “Diponegoro”, jelas betapa apresiasi sang penyair
atas semangat perjuangan pahlawan tersebut dalam melawan kekuasaan penjajah : «
Di masa pembangunan ini / tuan hidup kembali / Dan bara kagum menjadi api / Di
depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali / Pedang
di kanan, keris di kiri / Berselempang semangat yang tak bisa mati. » Sedangkan
“Kerawang-Bekasi” adalah salah sebuah kreasi puisi kemerdekaannya yang amat
menyentuh perasaan sekaligus menggugah pikiran yang mengobarkan semangat juang
dengan segala pengorbanannya. Sajak itu merupakan suara jiwa pahlawan dengan
semangat kepahlawanannya yang gugur di medan laga. Semangat yang menggelorakan
semangat para pejuang demi membela dan mewujudkan kemerdekaan. Seperti
ketegasannya lebih lanjut: “Ayo!”. “Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin
janji / Aku sudah cukup lama dengar bicaramu / dipanggang atas apimu, digarami
oleh lautmu / Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 / Aku melangkah ke depan berada
rapat di sisimu / Aku sekarang api aku sekarang laut / Bung Karno! Kau dan aku
satu zat satu urat / Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar / Di uratmu di
uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh” (1948). Betapa plastis dan
puitisnya semangat Revolusi Agustus diungkapkan oleh Chairil Anwar itu. Suatu
pengungkapan kobaran api revolusi yang dinamis dan optimis. Ketegasan sikap dan
keberpihakkannya juga menjadi anutan banyak penyair, seniman dan sastrawan
lainnya. Sayangnya dia mati muda, dalam usia 25 tahun pada 1949. Dalam suasana
genting dan genting pilihan jalan perjuangan: betekuk tunduk kembali menerima
dikte kaum kolonialis dan imperialis atau meneruskan perjuangan agar bangsa
Indonesia benar-benar mencapai kemerdekaan yang penuh? Karena kaum kolonialis
dan nekolim ternyata tidak sudi menyaksikan bangsa dan Republik Indonesia
benar-benar menjadi bebas merdeka. Kalau saja penyair Angkatan’45 Chairil Anwar
panjang usia, tentunya dia akan lebih gigih dan lebih kreatif lagi dalam bidang
seninya mengungkapkan gelora perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya.
2. Pilihan dalam
menyatakan sesuatu
Diksi
berarti pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan nuansa
makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi
pembaca. Disinilah sering terjadi pergulatan dalam diri seorang penyair,
bagai-mana dia memilih kata-kata yang tepat, baik yang mengandung makna
denotatif maupun konotatif.
Puisi merupakan bentuk sastra yang bersifat konsertatif dan aksentuatif, memuas-kan pada isi daripada kulit luarnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap kata-kata yang di pakai dalam puisi. Kata-kata dalam puisi harus singkat, padat, mantap, berat dan sarat akan makna.
Seorang penyair sangat cermat dalam memilih kata. Kata-kata dipilih dengan mempertimbangkan makna, komposisi bunyi rima dan iramanya, serta kedudukan katanya di tengah kata lain dan keseluruhan tulisan. Tiap kata jadi memiliki makna. Tiap kata menjadi konkrit dan khusus, atau abstrak dan umum (Lux, dkk., 1989).
Puisi merupakan bentuk sastra yang bersifat konsertatif dan aksentuatif, memuas-kan pada isi daripada kulit luarnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap kata-kata yang di pakai dalam puisi. Kata-kata dalam puisi harus singkat, padat, mantap, berat dan sarat akan makna.
Seorang penyair sangat cermat dalam memilih kata. Kata-kata dipilih dengan mempertimbangkan makna, komposisi bunyi rima dan iramanya, serta kedudukan katanya di tengah kata lain dan keseluruhan tulisan. Tiap kata jadi memiliki makna. Tiap kata menjadi konkrit dan khusus, atau abstrak dan umum (Lux, dkk., 1989).
Chairil
Anwar merupakan salah tokoh yang karya-karyanya masuk dalam aliran
ekspresionalisme. Dalam aliran ini tidak mengungkapakan kenyataan secara
objektif, namun secara subjektif. Yang di ekspresikan adalah gelora kalbunya,
kehendak batinya. Puisinya benar-benar ekspresi jiwa, creatio, bukan mimiesis.
Namun demikian kadang-kadang penyair realis juga bersikap ekspresionalisme,
yakni jika ekspresi jiwanya itu tidak berlebih-lebihan, tetapi apa adanya.
Ekspresi jiwa yang berlebihan cenderung bersifat emosional adalah ciri ciri
kaum romantisme.
Sajak
ekspresionalisme tidak mengambarkan alam atau kenyataan, juga bukan
penggambaran kesan terhadap alam atau kenyataan, tetapi cetusan langsung dari
jiwa. Cetusan itu dapat bersifat mendarah daging, seperti sajak “aku” karya Chairil
Anwar di bawah ini.
AKU
Kalau
sampai waktuku
'Ku
mau tak seorang kan merayu
Tidak
juga kau
Tak
perlu sedu sedan itu
Aku
ini binatang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Biar
peluru menembus kulitku
Aku
tetap meradang menerjang
Luka
dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga
hilang pedih peri
Dan
aku akan lebih tidak perduli
Aku
mau hidup seribu tahun lagi
Pada
puisi diatas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari
semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam,
tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika
sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia
ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di
bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka
itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup.
Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi.
Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap Chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada pembahasan puisi “aku”.
Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap Chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada pembahasan puisi “aku”.
Bahasan
yang akan saya uraikan tentang puisi aku ini akan lebih mengedepankan pada
ekspresionalisme jiwa Chairil Anwar yang merupakan daya ekspresinya. Kalau si
aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorang pun yang bersedih “merayu”,
bahkan kekasih atau istrinya. Tidak perlu juga ada “sedu sedan” yang meratapi
kematian si aku sebeb tidak ada gunannya. Si aku ini adalah binatang jalang
yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya, ia merdeka tidak mau terikat
oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia di tembak, terhadap
aturan-aturan yang mengikat tersebut. Segala rasa sakit dan penderitaan akan
ditanggungkan, ditahan, diatasinya, hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada
akhirnya akan hilang sendiri. Si aku makin akan tidak peduli pada segala aturan
dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku “ingin hidup seribu tahun
lagi”, maksudnya secara kiasan, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya,
karya-karyanya akan hidup selama-lamanya.
Secara
struktural dengan cara melihat hubungan antara unsur-unsur dan keseluruhannya,
juga berdasarkan kiasan-kiasan yang terdapat didalamnya, maka dapat ditafsirkan
bahwa dalam sajak ini dikemukankan ide kepribadian bahwa orang itu harus
bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. “Ku mau tak seorang kan merayu”.
Orang lain hendaknya jangan campur tangan akan nasibnya, baik dalam suka maupun
duka, maka “tak perlu seduh sedan itu”. Semua masalah pribadi itu urusan
sendiri. Dikemukakan secara ekstrim bahwa si aku itu seorang yang
sebebas-bebasnya (sebagai binatang jalang), tak mau di batasi oleh
aturan-aturan yang mengikat. Dengan penuh semangat si aku akan mengahadapi
segala rintangan “tebusan peluru”, “bisa dan luka” dengan kebebasnya yang makin
mutlak itu. Makin banyak rintangan makin tak memperdulikannya sebab hanya
dengan demikian, ia akan dapat berkarya yang bermutu sehingga pikirannya dan
semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya, jauh melebihi umur manusia. “aku
ingin hidup seribu tahun lagi”, berdasarkan dasar konteks itu harus ditafsirkan
sebagai kiasan bahwa yang hidup seribu tahun adalah semangatnya bukan fisik.
Dalam
sajak ini kemantapan pikiran dan semangat selain ditandai dengan pemilihan kata
yang menunjukan ketegasan seperti “ku mau, tak perlu sedu sedan itu, aku tetap
meradang, aku akan tetap meradang, aku lebih tak peduli, dan aku mau hidup
seribu tahun lagi”. Pernyataan diri sebagai binatang jalang adalah kejujuran
yang besar, berani melihat diri sendiri dari segi buruknya. Efeknya membuat
orang tidak sombong terhadap kehebatan ini sendiri sebab selain orang lain
orang mempunyai kehebatan juga ada cacatnya, ada segi jelek dalam dirinya.
Si
aku ini adalah manusia yang terasing, keterasingannya ini memang disengaja oleh
dirinya sendiri sebagai pertanggung jawaban pribadi “ku mau tak seorang ‘kan
merayu , tidak juga kau”. Hal ini karena si kau adalah manusia bebas yang tak
mau terikat kepada orang lain “aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya
terbuang”. Dan si aku ini menentukan “nasibnya” sendiri, tak terikat oleh
kekuasaan lain “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Pengakuan dirinya sebagai
binatang jalang dan penentuan nasib sendiri “aku mau hidup seribu tahun lagi”
adalah merupakan sikap revolusioner terhadap paham dan sikap pandangan para
penyair yang mendahuluinya.
Dalam
sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa
hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal
a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan akhir seperti telah dibicarakan di
atas.
Hiperbola tersebut :
Hiperbola tersebut :
Aku
ini binatang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Biar
perlu menembus kulitku
Aku
tetap meradang menerjang
………
Aku
ingin hidup seribu tahun lagi
Gaya
tersebut disertai ulangan i-i yang lebih menambah intensitas :
Luka
dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga
hilang pedih peri
Dan
aku akan lebih tidak perduli
Aku
ingin hidup seribu tahun lagi
Dengan
demikian jelas hiperbola tersebut penonjolan pribadi tampa makin nyata disana
ia mencoba untuk nyata berada di dalan dunianya. Sajak ini menimbulkan banyak
tafsir, yang bersifat ambiguitas hal ini disebabkan ketaklangsungan ucapan
dengan cara bermacam-macam. Semuanya itu untuk menarik perhatian, untuk
menimbulkan pemikiran, dan untuk memproyeksikan prinsip ekuivalensi dari
proeses pemilihan ke poros kombinasi. “kalau samapai waktuku” dapat berarti
“kalau aku mati”, “tak perlu sedu sedan “ “berarti tak ada gunannya kesedihan
itu”. “Tidak juga kau” dapat berarti “tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku”.
Semua
itu menurut konteksnya. Jadi ambiguitas arti ini memperkaya arti sajak itu.
Ambiguitas arti itu juga disebabkan oleh pengantian arti, yaitu dalam sajak ini
banyak dipergunakan bahasa kiasan, disini banyak dipergunakan metafora, baik
metafora penuh mauapun implisit. Metafora penuh seperti “aku ini binatang
jalang”. Maksudnya, si aku itu sepeerti binatang jalang yang bebas lepas tidak
terikat oleh ikatan apapun. Metafora impliait seperti “peluru, luka dan bisa,
pedih peri”. “peluru” untuk mengkiaskan serangan, siksaan, halangan, ataupun
rintangan. Meskipun si aku terhembus peluru, mendapat siksaan, mendapat
siksaan, rintangan, serangan, ataupun halangan-halangan, ia tetap akan
meradang, menerjang: melawan dengan keras, berbuat nekat demi kebenarannya.
“luka dan bisa” untuk mengkiaskan penderitaan yang didapat yang menimpa. “pedih
peri” kengkiaskan kesakitan, kesedihan atau penderitaan akibat tembusan peluru
di kulit si aku (halangan, rintangan, serangan, ataupun siksaan).
Kiasan-kiasan
yang dilontarkan oleh Chairil Anwar dalam puisinya menunjukan bahwa di dalam
dirinya mencoba memetaforakan akan bahasa yang digunakan yang bertujuan
mencetusan langsung dari jiwa. Cetusan itu dapat bersifat mendarah daging,
seperti sajak “aku”. Dengan kiasan-kiasan itu gambaran menjadi konkrit, berupa
citra-citra yang dapat diindra, gambaran menjadi nyata, seolah dapat dilihat,
dirasakan sakitnya. Di samping itu kiasa-kiasan tersebut menyebabkan kepadatan
sajak. Untuk menyatakan semangat yang nyala-nyala untuk merasakan hidup yang
sebanyak-banyaknya digunakan kiasan “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di
sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya.
Jadi berdasarkan dasar konteks itu harus ditafsirkan bahwa Chairil Anwar dalam
puisi “aku” dapat didefinisaikan sebagai bentuk pemetaforaan bahasa atau kiasan
bahwa yang hidup seribu tahun adalah semangatnya bukan fisik.
Dengan kiasan-kiasan itu gambaran menjadi konkrit, berupa citra-citra yang dapat diindra, gambaran menjadi nyata, seolah dapat dilihat, dirasakan sakitnya. Di samping itu kiasa-kiasan tersebut menyebabkan kepadatan sajak. Untuk menyatakan semangat yang nyala-nyala untuk merasakan hidup yang sebanyak-banyaknya digunakan kiasan “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya.
Dengan kiasan-kiasan itu gambaran menjadi konkrit, berupa citra-citra yang dapat diindra, gambaran menjadi nyata, seolah dapat dilihat, dirasakan sakitnya. Di samping itu kiasa-kiasan tersebut menyebabkan kepadatan sajak. Untuk menyatakan semangat yang nyala-nyala untuk merasakan hidup yang sebanyak-banyaknya digunakan kiasan “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Jadi, di sini kelihatan gambaran bahwa si aku penuh vitalitas mau mereguk hidup ini selama-lamanya.
Penyimpangan
arti dan penggantian arti itu menyebabkan sajak “aku” ini dapat tafsirkan
bermacam-macam sesuai dengan saran kata-kata dan kalimatnya. Hal ini
menyebabkan sajak ini selalu “baru” setiap dibaca dengan tafsiran-tafsiran baru
yang memperkaya arti sajak ini, yang ditimbulkan oleh kemampuan struktur sajak
ini yang menjadi dinamis oleh ambiguitasnya.
3. Gaya = pribadi penulis
3. Gaya = pribadi penulis
Chairil
Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat Indonesia. Ia
menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Namun siapa sangka,
penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini
adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk
puisi?
Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.
Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.
"Di Jalan
Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang jadi kantor Astra. Namanya
toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak. Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ,"
begitu Asrul Sani pernah bercerita.
"Suatu kali
kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku
mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku
mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku
lebar, cukup besar untuk menelan buku itu."
Buku-buku
filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara buku-buku agama.
Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul
dengan kitab Injil. "Sementara Chairil mengantongi buku, saya
memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan
setengah mati.
Setelah
buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan tenang. Tapi sampai
di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah ambil aku!' sambil
tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil.
Kami kecewa sekali."
Chairil
Anwar memang seorang “penggila” buku, yang dengan rakus melahap karya-karya
W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H.
Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi. Tapi dia adalah
penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak punya pekerjaan tetap,
suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Alhasil,
lengkaplah “ciri-ciri” seniman pada dirinya. Namun, dia juga contoh yang baik
tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane,
Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis
puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai
redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup
untuk puisi dan dari puisi. Tak Terurus. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan
seniman pada tahun 1943. H.B. Jassin punya cerita. “Suatu hari di tahun 1943,”
tuturnya, “Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat
tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti
berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa
sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka.” Tapi didapatnya
keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah
itu, ‘Susunan Dunia Baru’ (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak
individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang
pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat. Sejak itu sang penyair sering
terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan
Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan
seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang
memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.
Gaya
bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan
mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan
generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe). Bukan secara kebetulan agaknya
jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis yang kental.
Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair
terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis. Semacam tertuntun pada
sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang
menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan
dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja.
3. Pemakaian bahasa
yang “berbeda” dengan pemakaian bahasa biasa.
Walaupun
ada penyair yang menonjolkan bunyi dan mengabaikan peranan kata dalam puisi
ciptaannya (misalnya Sajak Hugo Bal), namun tidak dapat dipungkiri bahwa kata
sampai saat ini masih merupakan sarana yang sangat penting dalam penciptaan
puisi. Bagaimanapun juga, pada umumnya penyair mencurahkan pengalaman jiwanya
melalui kata-kata.Dalam menganalisis puisi, perlu dibahas arti kata dan efek
yang ditimbulkannya, misalnya arti denotatif, arti konotatif, kosa kata, diksi,
citraan, faktor ketatabahasaan, sarana retorika, dan hal-hal yang berhubungan
dengan struktur kata atau kalimat puisi.
Kata-kata yang digunakan oleh penyair disebut Slamet Mulyana sebagai kata berjiwa. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukkan unsur suasana, perasaan-perasaan penyair, dan sikapnya terhadap sesuatu.
Kata-kata yang digunakan oleh penyair disebut Slamet Mulyana sebagai kata berjiwa. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukkan unsur suasana, perasaan-perasaan penyair, dan sikapnya terhadap sesuatu.
Nampaknya
penyair mempergunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Ini terjadi
karena puisi sebagai ungkapan jiwa. Penyair menghendaki agar pembaca dapat
turut merasakan dan mengalami seperti apa yang dirasakan penyair. Perhatikan
puisi Chairil Anwar berikut ini :
DIPONEGORO
…di
depan sekali tuan menanti
Tak
gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang
di kanan, keris di kiri
Berselempang
semangat yang tak bisa mati.
Dalam
bait tersebut menyiratkan pancaran sikap seorang Pangeran di Ponegoro yang
gagah berani, penuh dengan semangat dan rasa patriotisme yang begitu tinggi
demi bang-sa. Kata-kata tersebut di ambil oleh pengarang kemungkinan karena
memiliki unsur yang jauh lebih tinggi dari sekedar bahasa—kiasan biasa. Seolah
semangat dan nilai yang begitu agung tak tercetak jelas, menjelaskan bahwa ia
sesungguhnya ingin mengagumi semangat pahlawannya.
Hal
serupa juga tersirat dalam bait puisi “Aku”—kehebatan Chairil Anwar me-lukiskan
tentang sosok dirinya mungkin dapat terlihat dalam puisi yang tenar ini.
Aku ini binantang jalang
Dari
kumpulannya terbuang
Biar
peluru menembus kulitku
Aku
tetap meradang menerjang.
Untuk
memaksimalkan sebuah kepuitisan karya, biasanya penyair memanfaatkan
kemampuannya dalam memilih kata setepat mungkin, memasukkan kata-kata/kalimat
yang konotatif dan mempergunakan gaya bahasa tertentu. Pilihan kata penyair
sangat membantu imajinasi pembaca. Semakin konkret kata-kata dalam puisi,
semakin tepat citraan yang ditimbulkannya. Seperti dalam bait puisi diatas.
Chairil Anwar ingin mem-perlihatkan tentang seperti apa pandangan hidupnya
tentang dirinya, dan bagaimana ia berpikir tentang sosok dirinya dimata dunia
dan tak keberdayaannya.
4. Gaya
sosial—konvensi yang dipakai secara bersamaan oleh para penulis.
Puisi
merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri
dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma
di bawahnya, yang dijelaskan oleh Rene Wellek sebagai berikut :
Lapis
norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi,
maka yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak
panjang, dan panjang. Lapis pertama yang berupa bunyi tersebut mendasari
timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti (units of meaning), karena bunyi-bunyi
yang ada pada puisi bukanlah bunyi tanpa arti. Bunyi-bunyi itu disusun
sedemikian rupa menjadi satuan kata, frase, kalimat, dan bait yang menimbulkan
makna yang dapat dipahami oleh pembaca. Rangkaian satuan-satuan arti tersebut
menimbulkan lapis ketiga berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, misalnya
latar, pelaku, lukisan-lukisan, objek-objek yang dikemukakan, makna implisit,
sifat-sifat metafisis, dunia pengarang dan sebagainya.
Untuk
menjelaskan penerapan analisis strata norma tersebut berikut diberikan sebuah
contoh.
CINTAKU JAUH DI PULAU
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku
jauh di pulau,
gadis
manis, sekarang iseng sendiri
Perahu
melancar, bulan memancar,
di
leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
Angin
membantu, laut terang, tapi terasa
aku
tidak ‘kan sampai padanya
Di
air yang terang, di angin mendayu,
di
perasaan penghabisan segala melaju
Ajal
bertahta, sambil berkata :
“Tujukan
perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi!
Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu
yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa
ajal memanggil dulu
sebelum
sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku
jauh di pulau
kalau
‘ku mati, dia mati iseng sendiri
Pembahasan
lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat “istimewa” atau
khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau
nilai seni. Misalnya pada baris pertama puisi di atas ada asonansi a dan u; di
baris kedua ada aliterasi s (gadis manis sekarang iseng sendiri). Demikian juga
pada bait kedua ada asonansi a (melancar – memancar – si pacar – terang –
terasa); dan ada pula aliterasi l dan r (melancar – bulan memancar – laut
terang – tapi terasa).
Kecuali
asonansi dan aliterasi, terdapat pula rima teratur yang digarap dengan sangat
mengesankan oleh Chairil Anwar. Bait 1 dan bait terakhir mempunyai rima yang
sama (a b), yang nampaknya mengapit bait-bait di antaranya yang berpola rima a
a – bb. Rima konsonan memancar – si pacar dipertentangkan dengan rima terasa –
padanya yang merupakan bunyi vokal. Rima kutempuh – merapuh (konsonan)
dipertentangkan dengan rima vokal dulu – cintaku. Rima yang berupa asonansi dan
aliterasi pada puisi di atas berfungsi sebagai lambang rasa (klanksymboliek)
sehingga menambah keindahan puisi dan memberi nilai rasa tertentu.
Asonansi: Pengulangan bunyi vokal yang sama pada baris yang sama
Asonansi: Pengulangan bunyi vokal yang sama pada baris yang sama
Aliterasi
1.Pengulangan
bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan.
2.Sajak/rima
awal
Dalam
kegiatan menganalisis arti, kita berusaha memberi makna pada bunyi, suku kata,
kata, kelompok kata, kalimat, bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi.
Sebagai contoh, berikut ini adalah analisis makna per kalimat, per bait dan
akhirnya makna seluruh puisi ‘Cintaku Jauh di Pulau’.
Bait
I Cintaku jauh di pulau berarti kekasih tokoh aku berada di pulau yang jauh.
Gadis manis sekarang iseng sendiri artinya sang kekasih tersebut adalah seorang
gadis yang manis yang menghabiskan waktu sendirian (iseng) tanpa kehadiran
tohoh aku.
Pada
bait II, si tokoh aku menempuh perjalanan jauh dengan perahu karena ingin
menjumpai kekasihnya. Ketika itu cuaca sangat bagus, namun hati si aku merasa
gundah karena rasanya ia tak akan sampai pada kekasihnya.
Bait
III menceritakan perasaan si aku yang semakin sedih karena walaupun air terang,
angin mendayu, tetapi pada perasaannya ajal telah memanggilnya (Ajal bertahta
sambil berkata : “Tujukan perahu ke pangkuanku saja”).
Bait
IV menunjukkan si aku putus asa. Demi menjumpai kekasihnya ia telah bertahun-tahun
berlayar, bahkan perahu yang membawanya akan rusak, namun ternyata kematian
menghadang dan mengakhiri hidupnya sebelum ia bertemu dengan kekasihnya.
Bait V merupakan kekhawatiran si tokoh aku tentang kekasihnya, bahwa setelah ia meninggal, kekasihnya itupun akan mati juga dalam penantian yang sia-sia.
Setelah kita menganalisis makna tiap bait, kita pun harus sampai pada makna lambang yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku harus mengarungi lautan yang melambangkan perjuangan. Sayang, usahanya tidak berhasil karena kematian telah menjemputnya sebelum ia meraih cita-citanya. Lapis arti menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, ‘dunia pengarang’, makna implisit, dan metafisis.
Bait V merupakan kekhawatiran si tokoh aku tentang kekasihnya, bahwa setelah ia meninggal, kekasihnya itupun akan mati juga dalam penantian yang sia-sia.
Setelah kita menganalisis makna tiap bait, kita pun harus sampai pada makna lambang yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku harus mengarungi lautan yang melambangkan perjuangan. Sayang, usahanya tidak berhasil karena kematian telah menjemputnya sebelum ia meraih cita-citanya. Lapis arti menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, ‘dunia pengarang’, makna implisit, dan metafisis.
Pada
puisi ‘Cintaku Jauh di Pulau’, objek yang dikemukakan adalah cintaku, gadis
manis, laut, pulau, perahu, angin, bulan, air laut, dan ajal. Pelaku atau
tokohnya adalah si aku , sedang latarnya di laut pada malam hari yang cerah dan
berangin.
Jika objek-objek, latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan menghasilkan ‘dunia pengarang’ atau isi puisi. Ini merupakan dunia (cerita) yang diciptakan penyair di dalam puisinya.
Jika objek-objek, latar, dan pelaku yang dikemukakan dalam puisi digabungkan, maka akan menghasilkan ‘dunia pengarang’ atau isi puisi. Ini merupakan dunia (cerita) yang diciptakan penyair di dalam puisinya.
Contoh,
berdasarkan puisi ‘Cintaku Jauh di Pulau’ kita dapat menuliskan ‘dunia
pengarang’ sebagai berikut :
Kekasih
tokoh aku (gadis manis) berada di suatu tempat yang jauh. Karena ingin
menemuinya, pada suatu malam ketika bulan bersinar dan cuaca bagus, si aku berangkat
dengan perahu. Akan tetapi, walaupun keadaan sangat baik untuk berlayar (laut
terang, angin mendayu), namun si aku merasa ia tak akan sampai pada kekasihnya
itu. Pelayaran selama bertahun-tahun, bahkan sampai perahunya akan rusak,
nampaknya tidak akan membuahkan hasil karena ajal lebih dulu datang. Ia
membayangkan, setelah ia mati kekasihnya juga akan mati dalam kesendirian.
Ada
pula makna implisit yang walaupun tidak dinyatakan dalam puisi namun dapat
dipahami oleh pembaca. Misalnya kata ’gadis manis’ memberi gambaran bahwa pacar
si aku ini sangat menarik. Dalam puisi tersebut terasa perasaan-perasaan si aku
: senang, gelisah, kecewa, dan putus asa. Kecuali itu ada unsur metafisis yang
menyebabkan pembaca berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur metafisis
tersebut berupa ketragisan hidup manusia, yaitu meskipun segala usaha telah
dilakukan disertai sarana yang cukup, bahkan segalanya berjalan lancar, namun
manusia seringkali tak dapat mencapai apa yang diidam-idamkannya karena maut
telah menghadang lebih dahulu. Dengan demikian, cita-cita yang hebat dan menggairahkan
akan sia-sia belaka.
D.
SIMPULAN
Chairil
Anwar adalah penyair yang identik dengan kesusastraan Indonesia. Setiap orang
Indonesia yang telah mengecap pendidikan formal pasti mengenal namanya. Ini
menunjukkan bahwa Chairil Anwar sangat dikenal sebagai sastrawan, khususnya
penyair. Walaupun Chairil Anwar meninggal dalam usia yang relatif muda 27
tahun, tetapi melalui karya-karyanya ia membuktikan kata-kata dalam sajaknya, Sekali
berarti setelah itu mati dan Aku mau hidup seribu tahun tahun lagi.
Chairil
Anwar menjadi sangat terkenal karena dua hal. Pertama, ia menulis sajak-sajak
bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu ideologi atau
pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi dan sebagainya. Ahli sastra
menyebut sastra jenis ini dengan istilah Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang
secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal
itu dapat berupa tanggapan dari persoalan-persoalan besar di zaman itu.
Beberapa karya Chairil Anwar yang termasuk sastra mimbar adalah “Aku”,
“Perjanjian Dengan Bung Karno”, “Catatan Tahun 1946” dan “Kerawang Bekasi”.
Dalam analisis stilistika dapat disimpulkan bahwasannya puisi-puisi Chairil Anwar memang memiliki corak warna tersendiri, sekalipun ada beberapa puisi yang pe-maknaannya di salah artikan. Dan kedalaman makna puisinya memang akan selalu me-ngundang decak kagum pembacanya.
Dalam analisis stilistika dapat disimpulkan bahwasannya puisi-puisi Chairil Anwar memang memiliki corak warna tersendiri, sekalipun ada beberapa puisi yang pe-maknaannya di salah artikan. Dan kedalaman makna puisinya memang akan selalu me-ngundang decak kagum pembacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar