Kamis, 17 Juni 2021

Sekelumit Kata Tentang 'Bumi Manusia' Karya Pramoedya Ananta Toer

 

ANALISIS NOVEL “BUMI MANUSIA”

KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh:

Ainul Yaqin

Mahasiswa Pascasarjana UNISDA Lamongan

 

A. ANALISIS STRUKTUR

Tema : penderitaan masyarakat pribumi pada masa penjajahan

Fakta Cerita

1. Plot   : novel Bumi Manusia menggunakan alur mundur, sebab dalam novel tersebut berkisah pada peristiwa kolonial Belanda.

2. Penokohan

a.    Minke            : seorang pemuda pribumi keturunan bangsawan pangreh praja yang cerdas dan berbakat menulis dalam bahasa Belanda. Ia juga seorang pelajar HBS, sekolah menengah Belanda yang bergengsi di jaman itu.

b.    Nyai Ontosoroh        : istri tak resmi seorang Belanda.

c.    Herman Mellema      : suami Nyai Ontosoroh.

d.    Annelies Mellema     : seorang gadis Indo Belanda anak Herman Mellema dengan Nyai Ontosoroh alias Sanikem.

e.    Robert Mellema        : kakak dari Annelies Mellema.

3. Latar             : Wonokromo dekat Surabaya di Jawa Timur.

Sarana Sastra

1.      Sudut pandang

Dalam novel Bumi Manusia pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama, seperti pada kutipan novel di bawah ini.

“Aku tunggu-tunggu meledaknya kemarahan Nyai karena puji-pujian”.

2.      Bahasa dan Gaya Bahasa

Bahasa

Di dalam novelnya Pramoedya banyak menggunakan bahasa asing dan istilah baru. Seperti radikal yaitu  golongan liberal progresif yang menentang pemerasan kolonial.

Gaya bahasa

-  “Anggaplah aku sebagai telornya yang telah jatuh dari  petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah”. Kutipan tersebut termasuk majas depersonifikasi.

-  “Baca tulisan Kommer. Dia marah seperti singa terluka. Dia ada pada pihakmu”. Kutipan tersebut termasuk majas depersonifikasi.

3.    Simbol

Novel Bumi Manusia tersebut menyimbolkan adanya penindasan terhadap masyarakat pribumi dengan munculnnya kekerasan terhadap wanita dengan digambarkan oleh sosok Nyai Ontosoroh.

B. PEMAHAMAN MAKNA

Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer dngan indah menceritakan penderitaan kaum pribumi di bawah kolonialisme Belanda di Jawa pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Minke, tokoh utamanya, adalah seorang pelajar HBS , sekolah menengah Belanda yang bergengsi di jaman itu. Dia bertemu lantas berpacaran dengan Annelies Mellema, seorang gadis Indo Belanda anak Herman Mellema dengan Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Herman Mellema pernah menjadi administratur pabrik gula Tulangan. Selanjutnya dia memilih berbisnis di Wonokromo. Meskipun orang desa, Sanikem cerdas, cekatan dan ambisius sehingga dia mampu mengelola usaha suaminya, Boerderij Buitenzorg, menjadi sebuah perusahaan peternakan yang maju pesat.

Setelah lulus dari HBS Minke menikah dengan Annelies Mellema. Sayang kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Suatu hari datang Maurits Mellema, anak Herman Mellema dengan istri pertamanya di Nederland. Dia marah marah dan menuntut hak haknya yang dirasa dirampas bapaknya. Pertemuan tak terduga itu mengguncangkan Herman Mellema dan akhirnya dia lari ke alkohol dan prostitusi. Pukulan berikut tertuju kepada nyai Ontosoroh, Minke dan Annelies. Pengadilan Amsterdam tidak mengakui Ontosoroh sebagai istri dan menetapkan penyitaan harta Herman Mellema dari Ontosoroh. Mereka juga memerintahkan pengasuhan Annelies kepada Maurits dan tidak mengakui pernikahan Annelies dengan Minke. Karena itu Annelies harus dipindah ke Nederland. Vonis ini menimbulkan protes keras. Eksekusi vonis menimbulkan pertumpahan darah. Pengawal Nyai melawan dengan senjata sehinggan pemerintah Belanda memakai polisi dan marsose. Akhirnya Annelies dibawa paksa ke Belanda.

Pramudya Ananta Toer dalam novel ini berhasil menunjukkan kejahatan kolonialisme seperti : diskriminasi ras, hukum yang kejam dan tidak adil, egois, tidak manusiawi, buta terhadap realitas sosial, tidak bermoral. Monogami juga tidak selalu lebih baik daripada poligami. Karena monogami juga hak hak Nyai diinjak injak. Kalau mereka penganut poligami maka hak hak Nyai akan dilindungi. Paling tidak dia akan diakui sebagai seorang istri.

Kajian Makna Menurut Pendekatan Feminisme

Sebagai penulis Pramoedya menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutak-atik bahasa.Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelies. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Oleh Pramoedya tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi sebagai seorang yang telah mendapat pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu.

Sisi feminis dalam novel ini pun muncul dan ditonjolkan dalam sudut pandang Nyai Ontosoroh sendiri, yang dalam cerita itu, bukanlah nyai biasa. Bukanlah gundik biasa. Zaman itu, Nyai identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan. Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah dipastikan masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh walaupun ramai orang membicarakan mereka.

Akan tetapi, di tengah segala perjuangannya pada akhirnya Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Annelies, diambil paksa dari tangannya. Namun, bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: “Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!”

Pramoedya dalam novel Bumi Manusia seolah-olah ingin menggambarkan penderitaan masyarakat pribumi. Adanya ketidakadilan dan perbedaan gender di kalangan masyarakat. Banyak amanat yang ingin disampaikan lewat karyanya tersebut. Seperti wanita haruslah memiliki hak yang sama dengan laki-laki,

 

AISYAH