ANALISIS NOVEL “BUMI MANUSIA”
KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Oleh:
Ainul Yaqin
Mahasiswa Pascasarjana UNISDA Lamongan
A. ANALISIS STRUKTUR
Tema : penderitaan masyarakat
pribumi pada masa penjajahan
Fakta Cerita
1. Plot : novel
Bumi Manusia menggunakan alur mundur, sebab dalam novel tersebut berkisah pada
peristiwa kolonial Belanda.
2. Penokohan
a.
Minke
: seorang pemuda pribumi keturunan bangsawan pangreh praja yang cerdas dan
berbakat menulis dalam bahasa Belanda. Ia juga seorang pelajar HBS, sekolah
menengah Belanda yang bergengsi di jaman itu.
b.
Nyai Ontosoroh
: istri tak resmi seorang Belanda.
c.
Herman Mellema : suami
Nyai Ontosoroh.
d.
Annelies Mellema : seorang
gadis Indo Belanda anak Herman Mellema dengan Nyai Ontosoroh alias Sanikem.
e.
Robert
Mellema : kakak dari Annelies
Mellema.
3. Latar
: Wonokromo
dekat Surabaya di Jawa Timur.
Sarana Sastra
1.
Sudut pandang
Dalam novel Bumi Manusia pengarang menggunakan
sudut pandang orang pertama pelaku utama, seperti pada kutipan novel di bawah
ini.
“Aku tunggu-tunggu meledaknya kemarahan Nyai karena
puji-pujian”.
2.
Bahasa dan Gaya Bahasa
Bahasa
Di dalam novelnya Pramoedya banyak menggunakan
bahasa asing dan istilah baru. Seperti radikal yaitu golongan liberal
progresif yang menentang pemerasan kolonial.
Gaya bahasa
- “Anggaplah aku sebagai telornya yang
telah jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah”. Kutipan
tersebut termasuk majas depersonifikasi.
- “Baca tulisan Kommer. Dia marah
seperti singa terluka. Dia ada pada pihakmu”. Kutipan tersebut termasuk majas
depersonifikasi.
3. Simbol
Novel Bumi Manusia tersebut menyimbolkan adanya
penindasan terhadap masyarakat pribumi dengan munculnnya kekerasan terhadap
wanita dengan digambarkan oleh sosok Nyai Ontosoroh.
B. PEMAHAMAN MAKNA
Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer dngan indah menceritakan
penderitaan kaum pribumi di bawah kolonialisme Belanda di Jawa pada akhir abad
19 dan awal abad 20. Minke, tokoh utamanya, adalah seorang pelajar HBS ,
sekolah menengah Belanda yang bergengsi di jaman itu. Dia bertemu lantas berpacaran
dengan Annelies Mellema, seorang gadis Indo Belanda anak Herman Mellema dengan
Nyai Ontosoroh alias Sanikem. Herman Mellema pernah menjadi administratur
pabrik gula Tulangan. Selanjutnya dia memilih berbisnis di Wonokromo. Meskipun
orang desa, Sanikem cerdas, cekatan dan ambisius sehingga dia mampu mengelola
usaha suaminya, Boerderij Buitenzorg, menjadi sebuah perusahaan peternakan yang
maju pesat.
Setelah lulus dari HBS Minke menikah dengan Annelies Mellema. Sayang
kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Suatu hari datang Maurits Mellema,
anak Herman Mellema dengan istri pertamanya di
Pramudya Ananta Toer dalam novel ini berhasil menunjukkan kejahatan
kolonialisme seperti : diskriminasi ras, hukum yang kejam dan tidak adil,
egois, tidak manusiawi, buta terhadap realitas sosial, tidak bermoral. Monogami
juga tidak selalu lebih baik daripada poligami. Karena monogami juga hak hak
Nyai diinjak injak. Kalau mereka penganut poligami maka hak hak Nyai akan
dilindungi. Paling tidak dia akan diakui sebagai seorang istri.
Kajian Makna Menurut Pendekatan Feminisme
Sebagai penulis Pramoedya menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan,
perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam
mengutak-atik bahasa.Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu
yang sangat mengasihi anaknya, Annelies. Bahkan ia adalah sang ibu yang
memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang
pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk
pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Oleh
Pramoedya tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi sebagai
seorang yang telah mendapat pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru
yang sedang bangkit waktu itu.
Sisi feminis dalam novel ini pun muncul dan ditonjolkan dalam sudut pandang
Nyai Ontosoroh sendiri, yang dalam cerita itu, bukanlah nyai biasa. Bukanlah
gundik biasa. Zaman itu, Nyai identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan.
Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah
dipastikan masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai
Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan
berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi
di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh
walaupun ramai orang membicarakan mereka.
Akan tetapi, di tengah segala perjuangannya pada akhirnya Nyai Ontosoroh
tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya,
Annelies, diambil paksa dari tangannya. Namun, bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh
dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan
anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat
untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang
mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada
tokoh Minke dengan kepala tegak: “Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo,
sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!”
Pramoedya dalam novel Bumi Manusia seolah-olah ingin menggambarkan
penderitaan masyarakat pribumi. Adanya ketidakadilan dan perbedaan gender di
kalangan masyarakat. Banyak amanat yang ingin disampaikan lewat karyanya
tersebut. Seperti wanita haruslah memiliki hak yang sama dengan laki-laki,

