Sekolahku Harapanku
Remang-remang cahaya lampu minyak
yang masih menyala menyinari kamar seorang gadis, ya malam ini hujan kembali
mengguyur desa kecil yang berada di sebelah timur pelosok kota. Dia adalah Siti
Nur Khasanah gadis belia yang masih berusia 12 tahun.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya,
“kok belum tidur to nduk? Bukankah besok kamu sekolah sayang?” ucap
mak Eros dengan lembut.
“ya mak sebentar lagi, ini lo mak Siti masih mengerjakan tugas
sekolah” jawab Siti dengan sopan.
“ya sudah kalau begitu, kalau sudah selesai cepat tidur ya nak,
soalnya ini sudah sangat larut”. “baik mak”.
Mak Eros adalah ibu Siti, beliau
adalah sosok ibu yang sangat bersahabat, penyayang dan sabar. Siti adalah anak pertama dari 3 bersaudara,
adiknya yang pertama berumur 6 tahun, sedangkan adik siti yang paling kecil masih
berumur 3 tahun. Keluarga Siti tergolong keluarga yang pas-pasan karena
penghasilan bakpaknya yang jauh dari kata cukup. Bapaknya hanya seorang penjual
kayu bakar di hutan.
Keesokan harinya
Siti bangun pagi-pagi sekali dengan sangat antusias, karena dia teringat
kejadian yang menimpa teman-temannya 3 hari yang lalu. Pada saat itu pagi-pagi
sekali hujan sudah turun dan mengguyur desa kecil itu, dan saat itu teman-teman
Siti sedang asyik melaksanakan KBM seperti biasa, tiba-tiba bumi bergetar dan
terjadi longsor di belakang sekolah. Beruntung kelas Siti hanya terserempet
longsoran tanah, jadi teman-teman Siti yang duduk di bagian belakang hanya
mengalami luka-luka ringan, dan secepat mungkin siswa-siswa itu dilarikan ke
pukesmas setempat untuk mendapatkan pertolongan.
Pagi itu di
sekolah Siti mendapat materi geografi, yang menyampaikan materi tersebut, adalah guru
yang baik, ramah, dan sangat menyatu dengan murid-muridnya. Pak Toyo namanya.
“baik anak-anak pagi ini kita akan membahas tentang litosfer
atau tanah.”
Ucap pak Toyo. Belum sempat pak Toyo menjelaskan tiba-tiba saja
Harti, teman sebangku Siti menyela tanpa meminta izin terlebih dahulu.
”Pak kenapa sih daerah kita ini sering terjadi longsor?”
“karena daerah kita ini berada berada di bawah lereng gunung
Harti.”
“tapi kan seharusnya gak perlu ada longsor pak! Kasihan kan
teman-teman kita yang tertimpa longsor kemarin!”
“iya pak, gimana caranya biar tidak terjadi longsor lagi?” sahut
Siti yang langsung nyerocos.
“Siti, Harti nanti pulang sekolah kalian temui bapak di ruang guru
ya.”
“baik pak.” Ucap Siti dan Harti bersamaan.
Harti adalah teman
Siti sejak kecil, kebetulan rumah mereka berhimpitan. Sejak mereka lahir hingga
sekarang mereka selalu bersama. Terkadang pula orang-orang banyak yang menyebut
mereka kembar tetapi berbeda, karena memang sudah seperti saudara kembar.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul
12.00 WIB. Dan bel sekolahpun sudah berbunyi tet,,,tet,,,tet,,,
“eh Ti jadi ke ruangan pak Toyo ngak?” Tanya Harti kepada Siti.
“ya jadi dong !” “ya udah, yuk kita kesana, ntar keburu siang!”
“iya, ayo.” Jawab Harti dengan semanagat.
Sesampainya mereka di ruang guru, mereka langsung disambut antusias
oleh pak Toyo. “As’salamu’alaikum.” Ucap Siti dan Harti bersamaan
“wa’alaikumsalam.” Pak Toyo dengan senang menyambut Siti dan Harti.
“ayo cepat kalian masuk! Ayo duduk-duduk!”
“baik pak.” Ucap Siti dan Harti bersamaan.
“langsung saja ya anak-anak, kalian tadi bertanya kenapa sekolah
kita sering tertimpa gempa bukan?” Tanya pak Toyo.
“iya pak, memangnya kenapa? Apakah dari dulu juga sering terjadi
gempa seperti ini?” Sitipun mulai ngelambrak.
“begini anak-anak tebing di belakang sekolah kita itu memang sangat
tinggi dan curam, seharusnya disana kita melakukan progam reboisasi dan
terasering, agar hujan yang turun tidak langsung jatuh ke tanah dan tidak
mengakibatkan longsor, apalagi di musim penghujan seperti saat ini pasti sangat
rawan terjadi longsor!” tukaspak Toyo panjang-lebar.
“gimana kalau hari Sabtu besok kita adakan penghijauan saja Pak?
Nanti kita ajak teman-teman yang lain untuk melakukan penanaman 1.000 pohon di
tebing kosong belakang sekolah agar tidak terjadi longsor-longsor lagi di desa
kita ini?!” usul Siti dengan semangat.
“oke, aku setuju banget sama usul kamu itu ti!!” ucap Harti tidak
kalah semangatnya.
“ide kamu sangat cemerlang siti, saya sangat setuju dengan
pemikiran kamu yang segar itu.” Sambut pak Toyo dengan sangat antusias.
Keesokan harinya
di sekolah sudah ada berbagai macam pohon untuk ditanam. Sepulang berdiskusi
kemaren mereka bertiga langsung menuju ke ruang kepala sekolah untuk langsung
menyampaikan maksud baik mereka. Sontak kepala sekolah menyambut usulan mereka
dengan sangat antusias dan gembira, kepala sekolah juga bekerja sama dengan perangkat desa untuk
menyemarakkan acara tersebut. Kepala desa juga menyambut acara tersebut dengan
sangat senang dan bersemanagat, tak lupa pula kepala desa mengajak warga desa untuk ikut serta dalam acara tersebut.
Pagi itu kepala
sekolah dan kepala desa memimpin langsung acara penanaman 1000 pohon tersebut. Acara
selesai tepat pukul 10.00 WIB. Siti, Harti dan Pak Toyo duduk santai di bawah pohon cengkeh yang amat rindang dan
sejuk. Mereka bertiga duduk santai sambil bercengkrama dan menikmati air putih
yang segar dan singkong goreng yang dibawa oleh penduduk desa setempat untuk
konsumsi peserta penanaman pohon tersebut.
“Alhamdulillah ya anak-anak acara kita bisa berjalan dengan sukses.”
Ucap pak Toyo dengan rasa puas dan bangga.
“iya pak Alhamdulillah, semoga acara ini bisa
terus berlangsung hingga generasi yang akan datang ya pak.” Ucap Siti dengan
penuh harap.
“amiin.” Ucap Harti dan pak
Toyo mengamini.
Satu minggu kemudian teman-teman Siti sudah sembuh, dan
mereka bisa menjalani aktivitas mereka seperti biasa. Pohoh-pohon yang mereka
tanam mulai tumbuh berkembang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulanpun berganti
dengan tahun. Sekarang keadaan sudah berubah seperti yang diharapkan oleh Siti, Harti dan pak
Toyo. Tebing yang dulu tinggi, curam dan gersang. Kini telah penuh dengan
pohon-pohon yang rindang dan tentu saja pohon-pohon tersebut menghalangi
jatuhnya air hujan ke tanah secara langsung.
Dan di desa kecil terpelosok tempat siti
lahir, bermain, dan menimba ilmu kini tak pernah lagi terdengar berita tentang tanah
longsor. Kini warga desa itu juga bisa hidup dengan tenang, tentram dan
damai tanpa rasa takut yang menghantui mereka selama ini.
Akhirnya cita-cita
siti selama ini juga tercapai. Kegiatan yang dulu Siti adakan sampai sekarang
masih dibudidayakan dan diindahkan oleh masyarakat sekitar. Sekarang Siti
menjadi guru keterampilan di tempat ia menimba ilmu dulu. Dan Kini ia merasa
sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang. Tapi sayang guru yang sangat
dihormati dan disayangi Siti harus pergi ke pangkuan-Nya 5 tahun yang lalu
karena sakit yang dideritanya selama ini. Tapi Siti tak pernah melupakan jasa
dan usahanya selama ini.
Hartipun sama, ia
juga pergi meninggalkan Siti 3 tahun yang lalu untuk mengikuti suaminya yang
mendapat tugas dinas di luar kota.Kini Siti berjuang seorang diri untuk terus
mengembangkan desa kecil impiannya itu. Berkat usaha Siti pula desa kecil yang
penuh dengan kelatarbelakangan itu kini menjadi sebuah desa yang maju dengan
sangat pesat dan modern.
Sekarang warga desa itu menjadi
orang-orang yang berpendidikan dan mengerti teknologi yang canggih. Dan tak
lupa pula kini desa kecil terpelosok itu telah melahirkan banyak
generasi-generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan yang amat luar biasa.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar